Berita


FINANCIAL LITERACY, RELEVANSI DAN MANFAATNYA BAGI ANGGOTA KELOMPOK BINAAN CU-SS

A. PENDAHULUAN

Gerakan pemberdayaan masyarakat yang telah dimulai oleh Lembaga Credit Union Sauan Sibarrung (CU-SS) sampai sekarang telah berjalan selama kurang lebih 8 tahun sejak lembaga ini didirikan di Makale (Tana Toraja) pada tanggal 6 Desember 2006. Namun ternyata, rencana di atas kertas tentang cita-cita pemberdayaan tersebut tidak berjalan semulus praktek di lapangan. Banyak sekali faktor yang menghambat pelaksanaan ide luhur tersebut. Akar penyebabnya hanya satu, yakni pola pikir masyarakat yang masih cenderung tertutup dan kolot. Masyarakat secara umum sudah terlalu lama terkungkung dalam pemahaman yang salah tentang kesejahteraan. Apalagi semangat instan di jaman modern ini sudah cukup mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Maka itu, segala usaha untuk mengajak mereka merancang kehidupan  melalui program-program pemberdayaan seperti yang ditawarkan oleh Credit Union masih cenderung dipandang sebagai usaha yang sia-sia dan tidak relevan lagi.

 

B. PEMBERDAYAAN DIRI MELALUI KELOMPOK PRODUKTIF

Mempertimbangkan keadaan tersebut, CU Sauan Sibarrung kemudian mengeluarkan sebuah produk yang dipandang sebagai solusi terbaik bagi permasalahan dasar di atas, yakni Pinjaman Kelompok Usaha Produktif. Ide yang diusung dalam produk ini meski terlihat sangat sederhana karena sudah merupakan hal biasa dalam kehidupan masyarakat secara umum, namun bila diamati secara lebih dalam, ternyata sungguh luar biasa. Program yang bertitik tolak dari pengalaman emas Sang Pencetus Ide CU sendiri, yakni W.F. Raiffeissen dan mengusung semangat solidaritas dalam wujud ‘tanggung renteng’ sebagai jiwanya, mengajak anggota untuk memaksimalkan potensi yang mereka miliki sendiri (swadaya) melalui usaha-usaha produktif di berbagai bidang kehidupan, antara lain di bidang pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, kerajinan rumah tangga, dan lain sebagainya.

Hal mendasar yang mau diangkat di sini adalah bidang ekonomi anggota. Sebab bidang inilah yang dipandang sebagai salah satu akar masalah sosial yang mengemuka dewasa ini. Ketidakmapanan di bidang ekonomi menjadi salah satu penyebab munculnya ketidakharmonisan relasi dalam sebuah keluarga yang pada akhirnya berpengaruh juga pada relasi-relasi sosial di luar keluarga. Apalagi bila ketidakmapanan itu diperparah lagi oleh ketidakmampuan untuk mengatur keuangan keluarga. Bahkan lebih banyak bukti yang menunjukkan bahwa keretakan dalam keluarga terjadi bukan pertama-tama karena minimnya pendapatan keluarga, tetapi lebih pada ketidakmampuan dalam mengelola/mengatur keuangan keluarga.

 

C. RELEVANSI DIKLAT FINANCIAL LITERACY

Financial Literacy atau kecakapan keuangan adalah pendidikan keuangan yang memungkinkan orang untuk memproses informasi keuangan dan mengubahnya menjadi pengetahuan (Robert T. Kiyosaki). Sayangnya, kebanyakan orang tidak memiliki pendidikan keuangan yang mereka butuhkan untuk mengubah hidup mereka. Kebanyakan orang tidak mengenali tujuan keuangan mereka di setiap tahap kehidupan karena buta tentang keuangan.

Namun seiring dengansemakin mengedepannya berbagai pengalaman menyedihkan berkaitan dengan masalah pengaturan keuangan ini, suatu kebutuhan untuk mengetahui lebih dalam tentang tata cara pengaturan keuangan juga semakin mendesak untuk direalisasikan. Hal inilah yang menyebabkan pendidikan financial literacy dewasa ini makin dicari orang.

Dalam usaha memberdayakan anggota-anggotanya, CU Sauan Sibarrung pun melihat pendidikan kecakapan keuangan ini sebagai sebuah langkah maju dalam mencapai tujuan itu. Sebab, pendidikan kecakapan keuangan ini menyadarkan anggota akan transisi-transisi kehidupannya. Seiring dengan itu, pendidikan ini kemudian membantu anggota untuk fokus pada setiap transisi kehidupannya. Apabila mereka mampu membuat perencanaan yang tepat dalam setiap tahap kehidupannya, maka anggota akan semakin cepat mendapatkan kebebasan keuangan, yaitu suatu situasi yang membebaskan mereka dari kekhawatiran keuangan.

 Kebutuhan yang sama, bahkan kemudian dirasakan lebih mendesak, adalah pentingnya kecakapan keuangan ini dimiliki oleh setiap anggota kelompok binaan CU Sauan Sibarrung. Pendidikan tidak hanya relevan, bahkan menjadi salah satu elemen penting yang turut menentukan perkembangan usaha anggota. Mengapa demikian? Sebab tanpa adanya pengaturan keuangan yang baik, usaha produktif yang dikelola anggota tidak akan efektif dan bergerak maju.

Sebagai contoh, misalnya si A mengelola sebuah usaha produktif peternakan. Dengan ilmu manajemen keuangan, ia akan mampu menaksir/memperkirakan biaya-biaya modal dan operasional yang akan dibutuhkan selama proses pemeliharaan ternak tersebut. Ia bisa memperkirakan bahwa ternak ini akan menguntungkan kalau dijual dengan harga tertentu pada saat tertentu pula. Demikian pula apabila dia sudah mulai menjual ternaknya, dengan ilmu financial literacy-nya juga, ia akan mengatur berapa rupiah yang akan dipakainya untuk biaya modal, biaya operasional, biaya tak terduga, berapa yang akan disisihkan untuk tabungan (cadangan modal dan tabungan keluarga), dan berapa yang akan dibelanjakan sebagai biaya kebutuhan harian. Dengan demikian, anggota pun secara perlahan diajak untuk mulai memberdayakan dirinya perlahan-lahan melalui cadangan modal yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit. Bila kemudian modal itu sudah cukup menanggulangi biaya produksi, dia pun tidak akan terlalu tergantung lagi pada pinjaman-pinjaman dari CU.

Demikian juga halnya dengan perencanaan tabungan untuk kesejahteraan keluarga. Tabungan yang dibuat sesuai dengan tahapan-tahapan kehidupannya, seperti misalnya Simpanan Rannuan untuk masa kanak-kanak, Simpanan Panta’nakan untuk anak sekolah, Simpanan Pasallo untuk kebutuhan harian, Simpanan Passakke untuk pembiayaan acara keluarga (pesta/rekreasi) atau Hari-hari Raya Keagamaan, Simpanan Banua Sura’ untuk kepemilikan rumah dan tanah, Simpanan Matangkin untuk pembiayaan di saat-saat darurat, Simpanan Kendaraan Bermotor untuk kepemilikan kendaraan bermotor, dan Simpanan Ziarah Rohani untuk merancang Ziarah Rohani keluarga. Dengan adanya jaminan pada setiap tahap kehidupan ini, si A tadi akan lebih tenang dan nyaman menjalani kehidupannya. Pada gilirannya nanti, ia tidak akan dipusingkan lagi oleh berbagai kesulitan keuangan dalam menanggulani kebutuhan-kebutuhan hidup keluarganya. Inilah tahapan yang disebut sebagai tahap kebebasan finansial.

 

D. PENUTUP

“Helping People to Help Themselves”. Berdasarkan motto ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa tolok ukur keberhasilan suatu lembaga CU tidak terletak pada kepemilikan aset yang besar; tidak pula tergantung pada besarnya jumlah orang yang menjadi anggota CU tersebut. Keberhasilan CU dapat diukur dari berapa persen anggotanya yang telah mampu mencapai destinasi atau tujuan keuangannya. Berapa persentase anggota yang telah terbebas dari rasa khawatir dan kesulitan keuangan.

Keadaan ini hanya bisa tercapai apabila lembaga CU tersebut mampu memberdayakan anggota-anggotanya melalui usaha-usaha produktif yang sistematis. Hal itu dapat tercapai apabila lembaga CU secara kreatif memiliki program khusus pemberdayaan anggotanya, seperti pemberian pelatihan mengenai kelompok-kelompok binaan produktif, pelatihan kewirausahaan, diklat Financial Literacy, dan sebagainya. Sudahkah CU anda mempraktekkan hal ini? (yp)

Kalkulator Kredit (Silahkan klik untuk mulai menghitung)

Kisah Sukses

IMAGE CUSS Membarikan Ketenangan Dalam Menjalankan Usaha
Tuesday, 13 November 2012
Manakah yang anda pilih, punya utang 10 juta rupiah dengan asset 50 juta rupiah atau punya utang 100 juta rupiah dengan asset  600 juta rupiah? Demikian pertanyaan bapak menteri BUMN Dahlan Iska... Read More...
IMAGE Kisah Sukses Dari KM Saluampak
Tuesday, 13 November 2012
Setelah sekian lama CUSS KM Saluampak berjalan, sudah banyak anggota yang sudah merasa sangat tertolong dan terbantu oleh kehadiran CUSS di tempat ini. Banyak anggota yang awalnya menggadaikan kebun... Read More...
IMAGE Membangun Keluarga dan Masyarakat melalui Credit Union Sauan Sibarrung
Friday, 14 June 2013
Saya Andarias Tappi’, anggota CU – SS dari TP Deri. Sehari-hari saya dipanggil Pong Riani.  Saya menjadi anggota CU sejak tahun 2007 yang pada saat itu masih berpusat di Makale. Saya ingin... Read More...

Kalender & Agenda

Mon Tue Wed Thu Fri Sat Sun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

Weblinks

Visitors Counter

6097259
Today
This Week
This Month
All days
2416
40501
181492
6097259