KABAR GEMBIRA MELALUI PANEN PADI HASIL BUDIDAYA SRI DALAM KELOMPOK BINAAN

Setelah menunggu selama 144 hari, sejak penanaman padi lokal “pare bau’ dengan metode SRI, akhirnya Bapak Paulus Kabangga’ bersama keluarga bisa bernafas lega. Sejak memutuskan menerima tawaran program “percobaan” penerapan metode SRI dari Sentrum Pelatihan Pertanian Terpadu (SP2T) PSE CARITAS Kevikepan Toraja pada kelompok tani di beberapa tempat di Toraja, bersama kelompok Tani Sikamasean, binaan CU Sauan Sibarrung untuk program kelompok ternak babi sejak tahun 2015 menjadi kelompok pertama yang mencoba menerapkan metode SRI untuk kegiatan bertani padi mereka. Sejak itu pula mereka berproses, belajar menerapkan pengetahuan baru dalam mengolah sawah sekaligus berhadapan dengan opini masyarakat yang melihat percobaan ini sebagai percobaan sia-sia yang tidak akan memberi hasil.
 
Pada Jumat, 15 Juli 2016,  Ibu Ester Turu, Ketua kelompok Sikamasean, tersenyum lebar menyambut aktivis SP2T yang datang untuk memantau persiapan panen. Kemudian disusul para  anggota kelompok berseragam lengkap siap untuk memanen hasil “percobaan” yang sekarang berumur 4 bulan 24 hari dan sudah siap dipanen. Senyum merekah dalam keluarga ibu Ester dan kelompok yang tidak sabar ingin turun ke sawah memetik hasil kerja. Bahkan saat aktivis masih menghitung anakan padi dan mengambil ubinan, sebagai indikator populasi tananam hasil, sejumlah anggota kelompok sudah mulai memanen padi yang terhampar di lahan sekitar sepertiga hektar itu. Tidak ada lagi keraguan di wajah dan bisik-bisik cemas terdengar seperti waktu mereka menanam 20 minggu lalu. Hanya tawa riang dan kekaguman yang terdengar diselingi bunyi musik “pelle’” yang ditiup oleh aktivis. 

 

Sejumlah orang yang penasaran dengan kegiatan yang dilakukan di areal persawaan Tondok Batu, Tondon Marante, Kecamatan Tondon, Kabupaten Toraja Utara sudah menunggu di rumah Ibu Ester yang jaraknya hanya 30an dari areal sawah percobaan ini. Mereka ini datang untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka atas akan metode SRI. Mulai dari bibit, pupuk dan perlakuan terhadap benih padi. Jika semula mereka meragukan bahkan cenderung mencurigai adanya ‘modus-modus’ tertentu dari program ini seperti manipulasi bibit dan pupuk serta perlakuan tertentu yang secara sengaja tidak diperlihatkan aktivis SP2T kepada petani, dalam diskusi kali ini mereka lebih banyak mengapresiasi dan bertanya kemungkinan untuk penerapan lebih lanjut bagi masyarakat tani di Tondon.

 

Sungguh menjadi kabar gembira kini bagi masyarakat tani khususnya petani sawah di Tondon dengan adanya metode System of Rice Intensification atau SRI ini. Diakui oleh Ibu Ester Sekeluarga metode ini sungguh luar biasa, hemat bibit, hemat biaya dan termasuk hemat tenaga. Hanya saat mantorak (membersihkan dari rumput) saja yang agak berat selebihnya sangat sederhana dan ternyata hasilnya lebih baik dari pada metode yang selama ini mereka praktekkan secara turun temurun. 
“Setidaknya sekarang beras organik sudah bukan lagi angan-angan untuk kita nikmati dalam rumah kita” pungkas Ibu Ester. (Ignas RT)